2026-05-10

SGOnline

Bersinar & Informatif

Kawah Candradimuka dan Gatot Kaca

Oleh Jeremy Huang

生活中的挑战、问题、问题塑造个人性格,使其变得更有弹性. Shēnghuó zhōng de tiǎozhàn, wèntí, wèntí sùzào gèrén xìnggé, shǐ qí biàn dé gèng yǒu tánxìng. Artinya tantangan, problema, masalah dalam kehidupan membentuk karakter pribadi menjadi lebih tangguh.

Kita semua pasti sudah pernah mendengar kisah Gatot Kaca, seorang ksatria putranya Bima dari keluarga Pandawa dengan perempuan raksasa yang bernama Hidimbi atau Arimbi. Kita sudah mengenal kisah Arimbi atau Hidimbi merupakan perempuan raksasa penguasa Hutan yang tinggal bersama kakaknya yang bernama Hidimba.

Bima menikah dengan Arimbi atau nama lainnya Hidimbi melahirkan Gatot Kaca (nama lainnya Teluk). Gatot Kaca mendapat gelar Ksatria bukan hal mudah, tidak instant, tidak langsung menjadi superhero, tidak langsung menjadi ksatria tetapi lewat proses. Ketika baru lahir Batara Empu Anggajali memasukkan Gatot Kaca ke kawah Candradimuka sebuah kawah yang panas. Ketika dimasukkan di Kawah Candradimuka, Gatot Kaca dapat keluar menjadi seorang ksatria, Gatot Kaca tampil sebagai superhero.

Kisah ini mengandung arti bahwa dalam kehidupan ini harus melewati sebuah proses tidak bisa instant, harus memulai perjalanan hidup dari nol, harus digodok, digembleng di kawah Candradimuka yang panas agar supaya dapat tampil menjadi seorang ksatria, superhero.

Kawah Candradimuka adalah lambang penggemblengan diri pribadi agar menjadi orang yang memiliki karkater pribadi yang kuat.

Kekaguman saya pada Bima dan Arimbi (Hidimba) mengijinkan anaknya untuk dibawa oleh Batara Empu Anggajali untuk digembleng dan diproses di Kawah Candra Dimuka. Padahal Bima adalah seorang Ksatria yang tidak pernah bisa dikalahkan oleh siapapun seharusnya gelar ksatria dan pimpinan dapat mudah diberikan kepada anaknya, tetapi Bima dan Arimbi sayang anak, mereka tahu bahwa dalam kehidupan harus melewati proses yang tidak mudah dan menyakitkan.

Jika kita lihat seekor rajawali betina mengajarkan anaknya terbang, dibawa anak anaknya dalam kepak sayapnya, dibawa terbang tinggi ke langit kemudian menjatuhkan anaknya di tempat ketinggian ketika terbang, ketika akan jatuh secepat kilat rajawali betina tersebut terbang menukik menyelamatkan anaknya, kemudian terbang tinggi kembali, dijatuhkan kembali dari kepakan sayapnya, ketika akan jatuh ke bawah diambilnya kembali hingga anaknya tersebut dapat terbang.

Jika kita sayang anak, kita harus mengijinkan anak kita melewati proses kehidupan, jangan manjakan anak dengan fasilitas pangkat kedudukan orang tuanya. Ijinkan anak anak kita untuk melewati proses penggemblengan di kawan Candra dimuka, untuk mendapatkan jabatan dan karier supaya anak kita menjadi anak yang tangguh dan teruji bagaikan Gatot kaca dan anak rajawali.

Jangan mendirikan dinasti, jangan nepotisme. Izinkan anak kita melewati proses kehidupan untuk mendapatkan jabatan. Ijinkan anak kita memulai karier dari nol. Supaya anak kita dapat menjadi anak tangguh yang superhero.

Butet Kertarajasa seorang artis senior putra Bagong Kusudiarjo seniman legenda dari Yogyakarta menceritakan label gelar keartisannya didapatkan setelah 25 tahun merintis karier sebagai artis dan seniman baru mendapatkan upah keartisannya bukan datang tiba tiba karena ayahnya seorang seniman dan budayawan.

Jadi ajarkan anak anak kita ketika berharap mendapatkan jabatan harus melewati proses kehidupan dari nol, naik ke gunung tinggi melewati batu terjal dan licin melewati hutan kehidupan yang banyak binatang buas. Baru bisa mendapatkan kedudukan dan jabatan. Problema, halangan, rintangan dan masalah adalah proses yang harus dijalani untuk menjadi tangguh. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *