Puluhan Kyai Jawa Barat Minta Persoalan di Tubuh PBNU Diselesaikan Secara Bermartabat, Gus Yahya: Kami Buka Ruang Dialog
CIREBON, (SGOnline).-
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, mengaku masih menunggu jawaban resmi terkait hasil Musyawarah Kubro yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Jawa Timur.
Pernyataan itu disampaikannya usai melakukan pertemuan dengan 60 kyai/ulama Se-Jawa Barat di kediaman KH. Adib Rofi’udin Izza di Kompleks Buntet Pesantren, Kecamatan Astananapura, Kabupaten Cirebon, Senin (22/12/2025).
KH. Yahya juga mengaku sudah menjalankan seluruh prosedur komunikasi sebagaimana yang disepakati dalam forum itu. Bahkan hasil Musyawarah Kubro Lirboyo sudah diumumkan secara terbuka dan diketahui publik. Setelah pengumuman itu, ia langsung mengambil langkah dengan mengirimkan pesan awal, dilanjutkan dengan surat resmi.
“Saya sudah diumumkan ya, hasil dari Musyawarah Kubro di Pondok Pesantren Lirboyo semua sudah tahu seperti itu. Saya juga sudah mengirim pesan pertama kemarin, dan pagi tadi saya mengirim surat resmi kepada beliau untuk menghadap. Sekarang saya menunggu jawaban,”kata Gus Yahya, di hadapan awak media.
Dalam Musyawarah Kubro tersebut, lanjut Gus Yahya, telah ditetapkan batas waktu selama tiga hari untuk menunggu respons, dan dirinya mengaku menghormati tenggat waktu itu sebelum mengambil langkah lanjutan.
Saat ditanya soal perkembangan terbaru, Gus Yahya menyatakan, hingga kini belum ada jawaban resmi yang diterimanya. “Kita masih menunggu. Saya juga belum tahu seperti apa nanti jawabannya,” ucap dia.
Namun Gus Yahya memastikan, setelah batas waktu tiga hari berakhir, ia akan melaporkan hasilnya kepada jajaran internal NU, termasuk kepada Muhtasyar dan Badan Pengurus Jam’iyyah. “Ini adalah perhatian bersama para kyai, karena mereka melihat ada sesuatu yang dianggap tidak beres,” jelasnya.
Sementara itu, KH. Adib Rofi’udin Izza, ketika diminta tanggapannya, mengungkapkan, sikap para kyai tetap mengedepankan prinsip kepatuhan dan ketenangan. Adapun keputusan Musyawarah Kubro Lirboyo tidak bisa serta merta diulang atau dibuka kembali, meskipun tetap ada kesepakatan untuk menjaga suasana kondusif.
“Kita harus menyadari, dengan cara sami’na wa atho’na. Apa yang diputuskan di Lirboyo belum bisa dibuat lagi atau diulang. Tapi ada kesepakatan bersama,” ujarnya.
Sejumlah forum dan kelompok kyai, khususnya di wilayah Jawa Barat, juga menyatakan dukungan terhadap upaya para masyayikh dan sesepuh NU untuk menyelesaikan persoalan ini dengan cara yang bijaksana dan bermartabat. Bahkan mereka tidak menghendaki adanya organisasi tandingan sejenis.
“Mereka berharap seluruh pihak dapat menempatkan persoalan secara proporsional, mengedepankan hak dan kewajiban masing-masing, serta menghindari polemik yang dapat merugikan jam’iyyah dan umat,” terangnya.
Gua Yahya sendiri membuka ruang untuk dialog agar persoalan tersebut dapat segera terselesaikan, sehingga kerukunan Nahdliyin atau keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) tetap kondusif dan terjaga dengan baik. (Ruddy)
