2022-09-27

SGOnline

Bersinar & Informatif

Petani Garam Cirebon Berkeluh Kesah ke Moeldoko, Ini Sebabnya

2 min read

CIREBON, (SGOnline).-

Petani garam mengharapkan agar pemerintah lebih serius memperhatikan nasib mereka. Hal itu disampaikan sejumlah petani garam saat berdialog dengan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Jenderal (Purn) H Moeldoko dalam kunjunganya ke Kabupaten Cirebon untuk mendengar dan menerima aspirasi petani garam di Kecamatan Pangenan dan Kapetakan.

Petani garam asal Kecamatan Pangenan, Ismail Marzuki mengungkapkan, harga garam sudah menjadi persoalan sejak dulu, karena petani tidak bisa langsung menjual ke perusahaan melainkan ke tengkulak.

“Kami tidak setuju dengan impor garam, apalagi disebutkan alasannya garam lokal tidak berkualitas, padahal kita mampu bersaing,” ujarnya saat berdialog dengan Moeldoko, Jumat (8/10/2021).

Ismail Marzuki alias Juki, petani garam setempat

Ismail yang akrab disapa Juki ini memaparkan, petani sebenarnya sangat mampu membuat garam kualitas asal difasilitasi peralatan serta permodalannya. “Kondisi abrasi terus terjadi. Air pasang terus naik. Harapannya dibangun semacam tanggul, agar tidak terus terjadi abrasi dan pasang air laut ke lahan pertanian garam,” tukasnya.

Sementara itu petani garam lainnya asal Kecamatan Kapetakan, Adi Wijaya meminta agar akses jalan menuju areal pertanian garam diperbaiki. “Ongkos transportasi pengangkutan garam dari lokasi tambak cukup jauh, dan sulit” ungkapnya

Kepala KSP, H Moeldoko tidak menyangka pertemuan tersebut dihadiri banyak petani garam, padahal sebelumnya Moeldoko menduga hanya beberapa saja yang hadir.

“Saya kira hanya obrolan santai dengan beberapa orang saja. KSP memiliki program KSP Mendengar. Agendanya, lebih banyak mendengarkan apa yang menjadi keluhan masyarakat. Tidak hanya di kantor, kita juga mengirimkan pegawai KSP untuk keliling ,” jelasnya

Dalam kesempatan itu, dia menyampaikan mengapa pemerintah mengambil kebijakan. Misalnya terkait impor garam. Di tahun 2021, Indonesia memerlukan 4.606.554 ton garam. Di antaranya untuk kebutuhan industri 3,07 juta.

Sedangkan total produksi 2020, hanya 1,365 juta ton. Pada akhirnya harus impor. Sebab, industri butuh garam. Pertanyaannya, kenapa garam kita tidak bisa ditingkatkan? “Ini tantangan bagi kita semuanya,” katanya.

Terkait masalah impor garam, pemerintah sudah menyiapkan untuk ke depan diarahkan kepada user langsung atau pabrik. Harapannya adalah garam yang diimpor sesuai dengan kebutuhan industri. Sehingga tidak ada garam yang bocor ke pasar sehingga mengganggu/merusak harga garam.

Moeldoko juga berjanji, akan memberikan input kepada Menteri Perdagangan dari hasil aspirasi ini. (Andi/SGO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.