Musyawarah kerja Paseduluran Jemparingan Kota Cirebon
CIREBON (SGOnline),- Paseduluran Jemparingan Cirebon, mengelar musyawarah kerja pertama yang berlangsung di halaman kantor Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik (Dkis) Kota Cirebon.
Musyawarah kerja yang dihadiri seluruh anggota Pa Seduluran Jemparingan Kota Cirebon, memilih ketua yang dilakuan secara langsung. Dalam pemilihan tersebut, Tri Helvian Utama, terpilih sebagai ketua dengan perolehan suara terbanyak.
Sebagai olahraga budaya, jemparingan bisa topang sektor pariwisata. Oleh karena itu, perlu ada kolaborasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon maupun pihak lain, untuk lebih memasyarakatkan jemparingan.
Ketua Pa Seduluran Jemparingan Kota Cirebon, Tri Helvian Utama mengatakan terpilih sebagai ketua, akan langsung bergerak memasyarakatkan olahraga Jemparingan di Kota Cirebon.
“Ini merupakan pr bersama, untuk memasyarakatkan jemparingan di Kota Cirebon, sosialisasi terutama anak-anak sekolah,” katanya
Sudah ada komitmen bersama Kormi, untuk lebih memasyarakat olahraga tradisional, disekolah-sekolah dengan memasukan dalam ekstrakurikuler, ucapnya
“Salah satu program, nanti kami sudah komitmen bersama Kormi, untuk bersama-sama memasyarakatkan olahraga tradisional, salah satunya memasukan kedalam ekstrakurikuler sekolah, untuk lebih mengenalkan olahraga tradisional,” tuturnya
Tri menambahkan, perlu bekerjasama dengan seluruh pihak. Salah satunya, Pemkot Cirebon, dengan berkolaborasi menopang industri pariwisata.
“Kita kaya budaya, Jemparingan sebagai olahraga budaya dapat menompang industri pariwisata, saya berharap bisa berintegrasi, kita punya goa Sunyaragi yang bisa menjadi spot olahraga Jemparingan. Tentunya, bisa menjadi bagian dari pariwisata,” ujarnya
Jemparingan adalah olahraga memanah kerajaan Mataram asli yang dikenalkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, dan masih dilestarikan di Yogyakarta maupun daerah sekitarnya.
Jemparingan atau memanah bagi para abdi dalem Keraton Yogyakarta, bukan hanya sebagai olahraga, namun juga sebagai olah rasa, menarik gondewa (bahasa Jawa dari busur) dan melepaskan anak panah.(Herwin/SGO)
