SEMUA ADA BATASNYA Takdir, Kekuasaan, Informasi, Loyalitas, dan Pergiliran Nasib
Oleh: Dr. KH. Maman Imanulhaq
Ada satu paradoks dalam kehidupan manusia yang menarik untuk direnungkan: ketika seseorang sedang berada di puncak kekuasaan, ia sering merasa mampu mengendalikan banyak hal. Ia bisa menentukan keputusan, menggerakkan orang, membangun jaringan, mengelola informasi, bahkan memengaruhi nasib orang lain. Namun, pada saat yang sama, ia sering lupa bahwa dirinya sendiri tidak sepenuhnya mampu mengendalikan nasibnya.
Kekuasaan memang memiliki daya tarik yang luar biasa. Ia menawarkan kewenangan, pengaruh, akses, dan perlindungan. Orang-orang di sekelilingnya datang membawa loyalitas, kepentingan, dan harapan. Informasi menjadi sumber keunggulan, jaringan menjadi instrumen pengaruh, sementara momentum menjadi kesempatan untuk memperkuat posisi.
Tetapi sejarah selalu mengajarkan satu hal: tidak ada kekuasaan yang benar-benar abadi.
Peristiwa yang melibatkan Ferdy Sambo, dinamika yang dikaitkan dengan sosok Febby dalam lingkaran penegakan hukum, serta perjalanan Listyo Sigit Prabowo dalam kepemimpinan Polri memberikan ruang untuk membaca lebih jauh mekanisme kekuasaan tersebut.
Ketiganya tidak harus berada dalam satu rangkaian peristiwa atau satu skenario yang sama. Namun, masing-masing menghadirkan pelajaran tentang hubungan antara jabatan, informasi, loyalitas, kewenangan, dan perubahan nasib.
Yang menarik bukan sekadar siapa yang naik dan siapa yang jatuh. Bukan pula sekadar siapa yang sedang kuat dan siapa yang kehilangan pengaruh. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana manusia mempertahankan posisinya, dan mengapa sesuatu yang hari ini tampak begitu kokoh suatu saat dapat berubah.
Di sinilah kita mulai berbicara tentang takdir, kekuasaan, dan nasib.
Kekuasaan dan Mekanisme Informasi
Dalam politik modern, informasi adalah salah satu sumber kekuasaan paling penting. Siapa yang mengetahui lebih dahulu sering kali memiliki keunggulan untuk menentukan langkah. Siapa yang menguasai akses informasi dapat membaca kelemahan, mengantisipasi gerakan, mengenali ancaman, dan memperkirakan perubahan keadaan.
Kekuasaan tidak selalu bekerja melalui perintah terbuka. Ia juga bekerja melalui kemampuan mengetahui apa yang sedang direncanakan orang lain, siapa yang sedang membangun jaringan, siapa yang sedang menjalin komunikasi, dan ke mana arah sebuah kepentingan bergerak.
Karena itu, informasi bukan sekadar alat komunikasi. Ia dapat menjadi instrumen untuk mengantisipasi, memengaruhi, bahkan mengubah arah sebuah peristiwa.
Namun, penguasaan informasi tidak otomatis berarti penguasaan kebenaran.
Informasi bisa tidak lengkap, disalahgunakan, dipelintir, atau ditempatkan dalam konteks yang berbeda. Bahkan informasi yang benar sekalipun dapat digunakan untuk tujuan yang tidak benar.
Dalam konteks negara, persoalan ini menjadi semakin serius ketika informasi diperoleh melalui instrumen pengawasan, termasuk penyadapan. Kewenangan semacam itu harus memiliki dasar hukum, prosedur yang jelas, dan pengawasan yang memadai.
Pertanyaan pentingnya bukan hanya siapa yang memiliki kemampuan menyadap, tetapi siapa yang mengawasi penggunaannya dan untuk kepentingan apa kewenangan tersebut dijalankan.
Di sinilah kekuasaan memperlihatkan wajahnya yang lain. Orang yang tampak memiliki jabatan tinggi belum tentu menguasai seluruh informasi. Sebaliknya, orang yang tidak berada di posisi paling depan bisa saja memiliki akses terhadap informasi yang menentukan arah sebuah keputusan.
Informasi adalah kekuatan, tetapi kekuatan informasi juga memiliki batas.
Loyalitas dan Pergeseran Kepentingan
Kekuasaan tidak pernah bekerja sendirian. Di belakang seorang pemimpin selalu ada orang-orang yang membangun jaringan, menjaga komunikasi, menjalankan perintah, dan memastikan keputusan dapat dilaksanakan.
Loyalitas menjadi salah satu fondasi penting dalam mekanisme tersebut.
Namun, loyalitas juga menyimpan paradoks. Dalam kehidupan politik dan birokrasi, hubungan antara seseorang dan lingkaran kekuasaannya tidak selalu bersifat permanen. Ada kepentingan, ada perubahan kepemimpinan, ada pergeseran prioritas, dan ada keadaan baru yang dapat mengubah hubungan antarmanusia.
Orang yang kemarin berada dalam lingkaran kepercayaan bisa saja hari ini berada di luar lingkaran tersebut. Mereka yang dahulu saling melindungi dapat menghadapi kepentingan yang berbeda.
Tetapi kita perlu membedakan antara loyalitas personal dan loyalitas institusional.
Loyalitas personal sering dibangun berdasarkan kedekatan, hubungan, dan kepentingan. Sementara loyalitas institusional seharusnya dibangun berdasarkan aturan, etika, dan tanggung jawab terhadap organisasi serta negara.
Ketika loyalitas personal lebih dominan daripada loyalitas terhadap hukum dan institusi, kekuasaan menjadi rentan disalahgunakan.
Seseorang mungkin merasa aman karena memiliki banyak orang yang mendukungnya. Padahal, dukungan itu belum tentu bertahan ketika keadaan berubah.
Loyalitas adalah kekuatan, tetapi bukan jaminan keabadian.
Momentum dan Pergiliran Nasib
Dalam politik, waktu sering kali sama pentingnya dengan kekuatan.
Sebuah informasi yang muncul pada waktu tertentu dapat mengubah arah keputusan. Sebuah peristiwa yang terjadi pada momentum tertentu dapat mempercepat kejatuhan seseorang atau justru membuka jalan bagi orang lain untuk naik.
Karena itu, kemampuan membaca momentum menjadi bagian penting dari strategi kekuasaan.
Orang yang mampu membaca perubahan keadaan sering memiliki keunggulan. Ia mengetahui kapan harus bertahan, kapan harus mengambil langkah, kapan harus membangun komunikasi, dan kapan harus mengubah strategi.
Namun, momentum bukan sesuatu yang bisa dimiliki selamanya.
Ada masa ketika seseorang berada dalam posisi yang sangat kuat. Dukungan datang dari berbagai arah, keputusan-keputusannya berjalan efektif, dan pengaruhnya semakin luas.
Tetapi keadaan dapat berubah.
Pergantian kepemimpinan, munculnya informasi baru, perubahan kepentingan, atau peristiwa yang tidak terduga dapat mengubah peta kekuasaan.
Momentum kemenangan hari ini belum tentu menjadi jaminan kemenangan esok hari.
Di sinilah kita melihat bahwa kekuasaan bukan hanya persoalan kemampuan mengendalikan keadaan, tetapi juga kemampuan memahami bahwa keadaan selalu bergerak.
Ilusi Mengendalikan Nasib
Semakin tinggi seseorang berada dalam struktur kekuasaan, semakin besar godaan untuk merasa bahwa dirinya mampu mengendalikan segala sesuatu.
Ia terbiasa memberi perintah dan melihat perintahnya dijalankan. Ia terbiasa menentukan keputusan dan menyaksikan orang lain menyesuaikan diri. Ia terbiasa memperoleh informasi lebih dahulu dan merasa selalu selangkah di depan.
Lama-kelamaan, keberhasilan masa lalu dapat berubah menjadi keyakinan bahwa dirinya tidak mungkin gagal.
Di sinilah kekuasaan mulai menciptakan ilusi kendali.
Manusia menganggap jabatan sebagai kepemilikan, loyalitas sebagai perlindungan permanen, jaringan sebagai benteng yang tidak dapat ditembus, dan pengaruh sebagai jaminan keselamatan.
Padahal, semua itu memiliki batas.
Kekuasaan tidak menghapus hukum. Jabatan tidak menghilangkan tanggung jawab. Kedekatan dengan pusat keputusan tidak menjamin seseorang akan selalu dipercaya. Bahkan kemampuan mengendalikan orang lain tidak berarti seseorang mampu mengendalikan seluruh konsekuensi dari tindakannya sendiri.
Kasus Ferdy Sambo memberikan pelajaran penting tentang hal ini. Jabatan dan kewenangan yang besar tidak dapat menjadi perlindungan dari pertanggungjawaban hukum. Ketika kewenangan disalahgunakan, justru besarnya kekuasaan dapat memperluas dampak dari kesalahan yang dilakukan.
Sementara dinamika dalam institusi penegakan hukum mengingatkan kita bahwa informasi, loyalitas, dan kewenangan harus selalu berada dalam pengawasan hukum.
Adapun perjalanan Listyo Sigit Prabowo mengingatkan bahwa jabatan puncak dalam institusi negara bukanlah kepemilikan pribadi yang berlangsung selamanya. Setiap jabatan memiliki batas, tanggung jawab, dan konsekuensi institusional.
Tentu, kita tidak boleh mencampuradukkan dugaan, tafsir politik, dan fakta hukum. Tidak setiap pergantian posisi merupakan bukti konflik tersembunyi. Tidak setiap perubahan hubungan merupakan pengkhianatan. Dan tidak setiap orang yang kehilangan kekuasaan berarti melakukan kesalahan.
Namun, dari berbagai peristiwa tersebut, kita dapat menarik satu pelajaran: manusia sering merasa mampu mengatur nasib orang lain ketika sedang berkuasa, tetapi lupa bahwa dirinya sendiri tidak sepenuhnya menguasai nasibnya.
Takdir, Ikhtiar, dan Batas Manusia
Dalam perspektif Islam, pembicaraan tentang kekuasaan tidak dapat dilepaskan dari kesadaran tentang takdir.
Manusia memiliki kemampuan untuk berikhtiar. Ia dapat merancang masa depan, membangun strategi, menentukan pilihan, memperjuangkan jabatan, dan mengembangkan pengaruh.
Namun, manusia tidak memiliki pengetahuan sempurna tentang masa depan.
Al-Qur’an mengingatkan dalam QS. An-Najm ayat 39:
Wa an laisa lil-insāni illā mā sa’ā.
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
Ayat ini mengingatkan bahwa ikhtiar dan tanggung jawab merupakan bagian penting dari kehidupan manusia.
Namun, ikhtiar tidak berarti manusia memiliki kuasa mutlak atas hasil. Ada banyak faktor yang berada di luar jangkauan pengetahuan dan kendalinya.
Kita dapat merencanakan, tetapi tidak mengetahui seluruh kemungkinan. Kita dapat bekerja keras, tetapi tidak menjamin semua keadaan berjalan sesuai harapan. Kita dapat memperoleh kekuasaan, tetapi tidak dapat memastikan kekuasaan itu akan bertahan selamanya.
Allah juga berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 26:
Qulillāhumma mālikal-mulki tu’til-mulka man tasyā’u wa tanzi’ul-mulka mimman tasyā’.
“Katakanlah: Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki.”
Ayat ini mengandung pesan spiritual yang sangat mendalam.
Manusia boleh berusaha memperoleh kekuasaan, tetapi tidak boleh menganggap dirinya sebagai pemilik mutlak kekuasaan.
Jabatan adalah amanah. Kewenangan adalah tanggung jawab. Pengaruh adalah kesempatan untuk menghadirkan kemaslahatan.
Kesadaran tentang takdir seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kepasrahan tanpa usaha. Justru karena manusia tidak mengetahui masa depan, ia harus berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Takdir bukan alasan untuk menghindari pertanggungjawaban. Seseorang tetap harus bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya.
Jika ia menyalahgunakan kewenangan, ia harus mempertanggungjawabkannya. Jika ia melakukan pelanggaran, ia harus menghadapi proses hukum yang adil.
Dengan demikian, iman kepada takdir tidak bertentangan dengan keadilan. Keduanya bertemu dalam kesadaran bahwa manusia harus berikhtiar sebaik mungkin, tetapi tidak boleh menyombongkan diri atas hasil yang diperolehnya.
Semua Ada Batasnya
Pada akhirnya, persoalan kekuasaan bukan hanya tentang siapa yang sedang berada di puncak dan siapa yang sedang mengalami kejatuhan.
Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana manusia memahami batas dirinya ketika memperoleh kekuasaan.
Kita perlu menyadari bahwa kekuasaan memiliki batas. Loyalitas memiliki batas. Pengaruh memiliki batas. Informasi memiliki batas. Strategi memiliki batas. Bahkan momentum kemenangan pun memiliki batas waktu.
Tidak ada jabatan yang abadi. Tidak ada pengaruh yang selalu kuat. Tidak ada jaringan yang menjamin seseorang akan selalu aman. Tidak ada manusia yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan seluruh keadaan.
Yang sering dilupakan manusia adalah bahwa ketika sedang berada di atas, ia merasa batas itu tidak berlaku bagi dirinya.
Padahal, sejarah berkali-kali mengajarkan bahwa mereka yang hari ini menentukan nasib orang lain, suatu saat dapat berhadapan dengan keadaan yang menentukan nasibnya sendiri.
Karena itu, jangan terlalu percaya pada kekuatan ketika sedang berada di puncak. Jangan terlalu yakin bahwa loyalitas akan selalu bertahan. Jangan menganggap informasi sebagai jaminan keselamatan. Dan jangan pernah merasa bahwa momentum kemenangan akan menjadi milik kita selamanya.
Informasi adalah kekuatan, loyalitas adalah perlindungan, dan momentum adalah kesempatan. Tetapi ketiganya tidak pernah menjamin keabadian kekuasaan.
Yang membedakan orang bijaksana dan orang yang terjebak dalam kekuasaan bukanlah seberapa tinggi ia mampu naik, melainkan seberapa sadar ia bahwa suatu saat ia harus turun.
Kekuasaan membuat manusia merasa mampu mengatur nasib orang lain. Takdir mengingatkan bahwa nasib dirinya sendiri pun tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.
Maka, persoalan sesungguhnya bukan seberapa besar kekuasaan yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa bijaksana kita menggunakannya. Bukan seberapa lama kita mampu bertahan di puncak, melainkan seberapa baik kita menjaga amanah selama berada di sana.
Sebab, kekuasaan tanpa kesadaran tentang batas akan melahirkan kesombongan. Dan kesombongan sering kali membuat manusia kehilangan kemampuan membaca keadaan, mengabaikan peringatan, serta gagal memahami konsekuensi dari tindakannya sendiri.
Pada akhirnya, manusia bukan pemilik kekuasaan, melainkan hanya penerima amanah untuk sementara. Ia boleh merancang, berjuang, membangun pengaruh, dan menentukan pilihan, tetapi tidak pernah menjadi penguasa mutlak atas seluruh perjalanan hidupnya.
Kekuasaan mungkin dapat berpindah tangan, loyalitas mungkin dapat bergeser, informasi mungkin dapat mengubah keadaan, dan momentum mungkin dapat berbalik arah. Namun, tanggung jawab moral atas setiap tindakan tetap melekat pada manusia.
Inilah pelajaran tentang takdir, kekuasaan, dan nasib: manusia memiliki ikhtiar, tetapi bukan pemilik seluruh hasil; manusia dapat memegang jabatan, tetapi bukan pemilik kekuasaan yang abadi; manusia dapat mengatur kehidupan orang lain melalui kewenangannya, tetapi tidak pernah sepenuhnya mengetahui perjalanan nasibnya sendiri.
Pada akhirnya, semua ada batasnya. (*)
