2026-04-18

SGOnline

Bersinar & Informatif

Simbolisasi yang Memiliki Arti Perlawanan dalam Makanan Tiongkok

Oleh Jeremy Huang

每个国家和每个地区都有独特的食物历史和意义. Měi gè guójiā hé měi gè dìqū dōu yǒu dútè de shíwù lìshǐ hé yìyì artinya tiap daerah dan tiap negara memiliki sejarah dan makna arti dari makanan.

Masakan dan makanan di Tiongkok memiliki sejarah dan makna arti tersendiri, ada beberapa jenis makanan yang dibuat sebagai simbol protes mereka ata kebijakan kerajaan saat itu seperti Cakwe mengandung arti hantu yang di goreng sebagai tanda protes atas kematian Jenderal Yue Fei. Cakwe (Hanzi: 油条, hanyu pinyin: You Tiao) adalah salah satu penganan tradisional Tionghoa.

Cakwe adalah dialek Hokkian yang berarti hantu yang digoreng (油炸鬼, hanyu pinyin: You Zha Gui). Nama ini berhubungan erat dengan asal usul penganan yang kecil namun sarat akan nilai sejarah ini. Cakwe mulai populer pada zaman Dinasti Song, berawal dari matinya Jenderal Yue Fei yang terkenal akan nasionalismenya akibat fitnahan Perdana Menteri Qin Hui.

Mendengar kabar kematian Yue Fei, rakyat Tiongkok kemudian membuat 2 batang kecil dari adonan tepung beras yang melambangkan Qin Hui dan istrinya lalu digoreng untuk dimakan. Ini dilakukan sebagai simbolisasi kebencian rakyat atas Qin Hui.

Kemudian ada bakcang.Orang membuat Bakcang. Bacang menurut legenda kali pertama muncul pada zaman Dinasti Zhou berkaitan dengan simpati rakyat kepada Qu Yuan yang bunuh diri dengan melompat ke Sungai Miluo. Pada saat itu, bacang dilemparkan rakyat sekitar ke dalam sungai untuk mengalihkan perhatian makhluk-makhluk di dalamnya supaya tidak memakan jenazah Qu Yuan. Untuk kemudian, bacang menjadi salah satu simbol perayaan Peh Cun atau Duanwu.

Bacang secara harfiah bak adalah daging dan cang adalah berisi daging jadi arti bacang adalah berisi daging, tetapi pada praktiknya selain yang berisi daging ada juga cang yang berisikan sayur-sayuran atau yang tidak berisi. Yang berisi sayur-sayuran disebut chaicang, chai adalah sayuran dan yang tidak berisi biasanya dimakan bersama dengan srikaya atau gula disebut kicang.

Bakpao (Hanzi: 肉包, hokkian: bakpao, hanyu pinyin: roubao) merupakan makanan tradisional Tionghoa. Dikenal sebagai bakpao di Indonesia karena diserap dari bahasa Hokkian yang dituturkan mayoritas orang Tionghoa di Indonesia. Pao itu berarti bungkusan, dan bak itu artinya daging, jadi bakpao berarti bungkusan (berisi) daging. Bakpao umumnya berisi daging babi, karena orang Tionghoa kebanyakan memang mengkonsumsi daging babi, akan tetapi sebenarnya arti Bak itu bukanlah daging babi, melainkan daging. Daging Babi sebutannya adalah Tie Bak, akan tetapi penyebutan Bakpau Babi, tidak dikenal dengan nama Tie Bakpao. Sebaliknya Bakpao yang berisi daging ayam dinamakan Koi Pao (Hokkian) atau kehpao (Hakka). Kalau daging sapi sebutannya adalah Gu Bakpao (Gu = Sapi).Bakpao sendiri berarti harfiah adalah baozi yang berisi daging. Pada awalnya daging yang paling lazim digunakan adalah daging babi. Akan tetapi baozi sendiri dapat diisi dengan bahan lainnya seperti daging ayam, sayur-sayuran, serikaya manis, selai kacang kedelai, selai kacang merah, selai kacang hijau, selai kacang hitam, dan sebagainya, sesuai selera.

Kulit bakpao dibuat dari adonan tepung terigu diberi ragi untuk mengembangkan adonan, setelah diberikan isian, adonan dibiarkan sampai mengembang lalu di kukus sampai matang. Untuk membedakan isi bakpao, tanpa daging (vegetarian) basanya di atas bakpao diberi titikan warna, demikian juga dengan isian yang lain diberi tanda warna yang berbeda-beda.

Bakpao dalam bahasa Hakka / Khek yaitu nyukppao / yugppao yang mempunyai arti yang sama yaitu daging berbungkus.

Awal cerita bakpao berawal ketika terjadi pemberontakan besar-besaran di daerah selatan Tiongkok. Perdana menteri Tiongkok saat itu, Zhuge Liang, meminta izin kepada kaisarnya, Liu Chan.

Zhuge Liang meminta Liu Chan untuk menumpas pemberontakan di daerah selatan yang dikenal dengan sebutan ‘The Southern Campaign’. Raja daerah selatan yang memberontak bernama Meng Huo. Liang telah mengalahkan Meng Huo sebanyak tujuh kali dan membebaskan tujuh kali.

Pada saat pembebesan ketujuh Meng Huo menyerah dan berjanji tidak akan memberontak kepada Shu Guo. Pada peperangan yang ketujuh, Zhuge Liang membuat Meng Huo masuk ke lembah yang dikelilingi pegunungan. Zhuge Liang menaruh kereta pengangkut makanan di lembah tersebut.

Meng Huo mendekati kereta tersebut, namun kereta itu tidak berisi makanan melainkan bubuk mesiu. Mengetahui hal tersebut, pasukan Shu memanah kereta yang penuh bubuk mesiu itu.

Terjadi ledakan besar-besaran di lembah tersebut dan menewaskan hampir semua pasukan Meng Huo. Meng Huo kemudian ditangkap pasukan Liang. Zhuge Liang menemui Meng Huo dan melepaskan ikatan tali Meng Huo.

Ketika dalam perjalanan kembali ke Cheng Du (ibu kota Shu), Zhuge Liang melewati sungai besar. Zhuge Liang meminta pendapat Meng Huo yang ikut mengantar Liang. Meng Huo mengatakan bahwa orang yang ingin melewati sungai tersebut harus melemparkan 50 kepala manusia sebagai persembahan kepada roh sungai.

Zhuge Liang tidak ingin membuat pertumbahan darah lagi. Zhuge Liang akhirnya membuat kue yang menyerupai kepala manusia. Kue itu berbentuk bulat, namun di dasarnya rata. Lalu kue itu disebut bakpao (baozi). Hingga saat ini bakpao telah dikenal di seluruh dunia sebagai makanan tradisional Tiongkok. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *