2026-05-03

SGOnline

Bersinar & Informatif

Perajin Batik Trusmi Binaan Pupuk Kujang, Bangkit Pascapandemi

Kabupaten, SGOnline,– Salah satu perajin batik di Trusmi Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon yang menjadi binaan PT Pupuk Kujang Cikampek, berhasil bangkit setelah pandemi Covid-19.

Arief Riyadhi dari Departemen Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pupuk Kujang, sudah lama pihaknya melakukan pembinaan kepada perajin dengan nama usaha Batik Kurnia di Trusmi.

Pendampingan yang dilakukan pihaknya, ikut membantu proses kebangkitan usaha batik tersebut, setelah sebelumnya dihantam wabah pandemi Covid-19.

“Awalnya, kami melakukan pendampingan kepada Batik Kurnia pada tahun 2013. Kami juga mendampingi Batik Kurnia saat pandemi terjadi. Pendampingan itu dilakukan sampai sekarang,” kata Arief, Kamis (15/9/2022)

Dia menambahkan, pendampingan yang diberikan Pupuk Kujang terhadap Batik Kurnia berupa strategi pemasaran, serangkaian pameran, hingga bantuan modal usaha. “Kami fasilitasi untuk sejumlah pameran di tingkat nasional supaya Batik Kurnia asal Trusmi ini semakin dikenal masyarakat,” ujarnya.

Masih menurut Arief, di pameran yang dihadiri para kolektor dan penikmat seni batik, yang memang memburu koleksi batik tulis motif klasik tradisional, Batik Kurnia asal Trusmi ini memiliki koleksinya.

Vice Presiden TJSL Pupuk Kujang, Agung Gustiawan mengatakan terus membuat program-program untuk mengembangkan Community Development atau pengembangan komunitas. Program-program itu, kata Agung, tidak hanya diberikan kepada komunitas di bidang pangan saja.

“Kami membuat program pengembangan tidak hanya untuk komunitas petani, perajin batik pun kita dampingi. Seperti Batik Kurnia asal Trusmi ini, kita dampingi mulai dari bantuan permodalan, bantuan promosi hingga bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” tandas Agung.

Dia menambahkan, Pupuk Indonesia juga melakukan pembinaan berupa proses kurasi dan pemetaan pasar ke tingkat lanjut untuk Batik Kurnia.
Sebab kata dia, batik merupakan salah satu warisan budaya asal Indonesia dan sudah diakui UNESCO. Batik Trusmi yang sudah ada sejak abad ke-14 ini memiliki sejarah panjang yang harus dilestarikan.

“Pupuk Kujang ingin berkontribusi dalam perkembangan batik ini. Sebab kami ingin berkontribusi untuk masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Pemilik Batik Kurnia, Satuni menjelaskan, pendampingan dan bantuan modal dari Pupuk Kujang turut membantunya saat melewati badai pandemi beberapa tahun lalu. Ia bercerita, saat pandemi corona melanda, pesanan batik merosot tajam. Sehingga kinerja usaha Batik Kurnia ikut terguncang.

“Namun karena ada bantuan dana dari Pupuk Kujang, kami bisa bangkit, bisa punya modal lagi untuk produksi, dan para pekerja pun bisa kembali produktif. Karena tak sedikit warga Trusmi yang menggantungkan hidupnya kepada batik,” imbuh Satuni. (Andi/SGO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *