2026-06-04

SGOnline

Bersinar & Informatif

Sikap Pro dan Kontra Warnai Aksi Dua Massa di Depan DPRD Kota Cirebon

KEJAKSAN, (SGOnline).-

Dua kelompok massa pro dan kontra terhadap pernyataan Menteri Agama (Menag) RI, KH. Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut terkait Surat Edaran Menteri Agama Nomor 05/2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara melakukan aksi di depan Balai Kota Cirebon, Selasa (1/3/2022).

Kelompok pertama yakni gabungan dari ormas Islam dan LSM yang menyatakan sikap kekecewaan terhadap pernyartaan Gus Yaqut. Mereka juga meminta Presiden Joko Widodo untuk memecat Gus Yaqut dari jabatanya sebagai Menag RI.

Ketua Forum Umat Islam Ciayumajakuning, Ustadz Almarwi menandaskan, hati umat Muslim terluka karena pernyataan Gus Yaqut tersebut yang menyamakan adzan dengan gonggongan anjing. Menurutnya, suara adzan merupakan panggilan Allah SWT. Sedangkan anjing menurutnya merupakan binatang yang najis.

“Ada pejabat yang telah merusak dan melukai hati umat muslim, maka kami kaum muslim warga Cirebon meminta presiden memecat Menteri Agama dan kemudian diadili seadil- adilnya,” tandas Almarwi dalam orasinya.

Dalam aksinya ini, mereka juga membacakan sikap bersama terkait pernyataan Gus Yaqut. Ada tiga poin yang dibacakan oleh mereka. Poin pertama yakni mereka merasa kecewa dan tersakiti atas ucapan lisan yang terucap dari seorang Menag RI, Yaqut Cholil Qoumas yang dalam kalimatnya secara sadar menyamakan suara adzan yang dikumandangan 5x sehari yang sejatinya adalah amalan syariat islam dengan suara gonggongan anjing yang menggangu.

Poin kedua berisi memohon kepada Pemda Kota Cirebon dan DPRD kota cirebon untuk menyampaikan tuntutan kepada persiden untuk memproses dan sekaligus mencopot jabatan Menag RI yang sudah dianggap tidak layak memangku jabatan Menag RI.

Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon, M. Handarujati Kalamullah dan sejumlah anggota lainya sempat menemui mereka dan berjanji akan menyampaikan aspirasi tersebut.

“Lalu, apabila dalam batas waktu 3×24 jam tuntutan kami tidak tersampaikan dan diindahkan maka kami bersikap melakukan kembali turun ke jalan dengan cara dan kekuaran yang lebih besar,” katanya.

Sementara aksi dari Ormas Islam dan sejumlah LSM masih berlangsung, kelompok lainya yang melakukan aksi yang membela Gus Yaqut. Aksi “Jaga Toleransi” dilakukan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) dan Banser Kota dan Kabupaten Cirebon. Mereka berkumpul di Alun- alun Kejaksan untuk melakukan tahlil bersama. Setelah kelompok pertama membubarkan diri, massa dari GP Ansor serta Banser ini kemudian melakukan aksi Jaga Toleransi di depan Balai Kota Cirebon. Mereka ditemui Wali Kota Cirebon, H. Nashrudin Azis serta sejumlah anggota DPRD Kota Cirebon.

Perwakilan GP Ansor yang juga Sekjen PC GP Ansor Kabupaten Cirebon, Moh. Aan Anwarudin mengatakan, aksi Jaga Toleransi yang dilakukan GP Ansor dan Banser ini merupakan aksi untuk merespon gerakan yang selama ini menuduh Gus Yaqut bahwa Gus Yaqut melarang adzan dan membandingkan adzan dengan suara anjing.

“Kita sudah tahu bersama bahwa kemarin Roy Suryo yang katanya ingin melaporkan dalam wawancara televisi itu ternyata tidak ada. Tidak ada unsur bahwa pertama Gus Yaqut melarang adzan. Kedua tidak sama sekali bahwa Gus Yaqut membandingkan suara adzan dengan suara anjing, tidak sama sekali ada dan kita sudah tahu bersama,” kata Aan.

Aksi damai Jaga Toleransi ini, kata Aan, juga ingin menunjukan ke Indonesia bahwa Gus Yaqut tidak sendiri dalam berjuang membela toleransi. Menurut Aan, masih ada puluhan juta rakyat Indonesia, pemuda islam Indonesia yang hari ini bersama Gus Yaqut. Aan juga mengaku tidak segan untuk melaporkan pihak- pihak yang sudah memfitnah Gus Yaqut.

“Jadi hari ini kita merespon mereka dan tidak segan juga melaporkan orang- orang yang sudah memfitnah Gus Yaqut. Kita mau merespon bahwa tuduhan yang selama ini berkembang di media sosial itu sama sekali tidak benar. Maka hari ini kita ingin menunjukan bahwa Gus Yaqut tidak pernah sendiri dengan perjuanganya,” tegasnya.

Menurut Aan, Gus Yaqur dalam videonya sama sekali tidak membandingkan suara adzan dan suara anjing. Menurutnya, dalam video itu juga disebutkan Gus Yaqut sedang mengumpamakan, menceritakan bahwa di sebuah komplek yang mana di tetangga kanan kirinya ada yang memelihara anjing. Dalam waktu yang bersamaan, jika lima- limanya menggonggong jelas menggangu tidak?

“Kemudian suara mobil juga bisa menganggu, maka suara- suara kebisingan ini termasuk juga soal yang lain ini juga diatur. Jadi sama sekali tidak membandingkan suara adzan dan anjing. Kita ingin mengatakan ke publik bahwa itu semua adalah fitnah, video yang dipotong yang dibuat sedimikian rupa seolah- olah membandingkan suara adzan dan anjing,” ungkapnya.

Sementara itu, Azis menemui GP Ansor dan Banser sembari duduk lesehan di trotoar depan Balai Kota. Azis mengatakan, kerukunan dan harmoni antar warga di Cirebon tidak perlu diragukan lagi, kendati kondisi sosial masyarakatnya beragam. Namun menurutnya, justru sikap tolerahsi antar warga di Cirebon sejauh ini berjalan dengan baik. Menurutnya, Pemerintah Daerah Kota Cirebon maupun dirinya secara pribadi merasa bersyukur dan bangga kepada Ansor dan Banser. Sebab, menurut Azis, Ansor dan Banser dalam menghadapi setiap persoalan tidak mendahulukan emosinya.

“Hal ini dapat menjadi contoh yang baik dalam menyikapi suatu persoalan. Ini sungguh luar biasa, ini yang perlu kita contoh, bagaimana kita berorganisasi tanpa mendahulukan rasa emosinya dalam menghadapi suatu persoalan,” kata Azis.

Azis menambahkan, menurutnya, dalam menyikapi suatu persoalan perlu menggunakan akal sehat. Azis menilai akal sehat akan berfungsi jika hatinya sejuk dan emosi akan terkendali. Azis menilai, Ansor dan Banser telah menunjukan kedewasaanya, bisa tegas namun mendahulikan logika di dalam bertindak.

“Buktinya teman- teman Ansor dan Banser datang kesini dengan wajah senyum, meski di dalam dirinya terlihat kekuatan yang luar biasa,” tuturnya.

Terpisah, Staf Khusus Menteri Agama, Nuruzzaman menegaskan bahwa pernyataan Gus Yaqut bukan dalam rangka membandingkan antara suara adzan dan gonggongan anjing, melainkan menyatakan pentingnya pengaturan suara kebisingan apapun. Nuruzzaman mengaku saat itu bersama Gus Yaqut di Pekanbaru yang sedang diwawancarai.

“Menteri Agama sama sekali tidak membandingkan suara adzan dengan suara anjing, tapi Menag sedang mencontohkan tentang pentingnya pengaturan kebisingan pengeras suara,” kaata Nuruzzaman yang saat itu mendampingi Menag.

Nuruzzaman menambahkan, dalam kunjungan kerja di Pekanbaru itu, Menag Yaqut menjawab pertanyaan terkait pro dan kontra Surat Edaran Nomor 05 Tahun 2022. Menurutnya, Menag Yaqur memaparkan dalam masyarakat yang plural, diperlukan pedoman agar kehidupan harmoni, salah satunya pedoman mengenai pengaturan pengeras suara.

“Menag Yaqut menjelaskan, di masyarakat yang plural, diperlukan toleransi sehingga perlu pedoman bersama agar kehidupan harmoni tetap terawat dengan baik, termasuk tentang pengaturan kebisingan pengeras suara, apapun yang bisa membuat tidak nyaman. Yang dimaksud Gus Yaqut adalah, misalkan umat islam tinggal sebagai minoritas di kawasan tertentu, di mana masyarakatnya banyak memelihara anjing, pasti akan terganggu jika tidak ada toleransi dari tetangga yang memelihara,” jelasnya.

Nururzzaman menuturkan saat itu Menag Yaqut memberi contoh sederhana, namun bukan untuk membandingkan satu dengan yang lainya. Karena itu, kata Nuruzzaman, Menag Yaqut juga menyebutkan kata ‘misal’ saat memberikan contoh sederhana.

“Jadi Menag Yaqut sedang mencontohkan suara yang terlalu keras, apalagi muncul secara bersamaan yang justru bisa menimbulkan kebisingan dan dapat mengganggu masyarakat sekitar,” imbuhnya. (Andi/SGO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *