2026-05-10

SGOnline

Bersinar & Informatif

Krisis Keraton Kasepuhan, Perebutan Hak Waris Pecah, Mediasi Pemerintah Dituntut

Cirebon, (SGOnline),-
Konflik internal di Keraton Kasepuhan Cirebon kembali menjadi sorotan publik setelah insiden kericuhan terbaru yang terjadi di lokasi tersebut. Ketegangan yang sudah berlangsung sejak 2020 ini kembali mencuat, terutama pasca wafatnya Sultan Arif Natadiningrat. Konflik tersebut kini berpusat pada hak waris keturunan Sunan Gunung Jati dan Pangeran Cakrabuana.

Menurut Heru Nursyamsi ditemui usai melaporkan ke Polres Cirebon Kota, salah satu pihak yang terlibat dalam perselisihan, masalah ini semakin rumit seiring waktu, dan pihaknya berharap adanya campur tangan negara untuk menyelesaikan konflik tersebut, Rabu (2/10/2024) malam.

“Konflik ini sudah lama terjadi, sejak 2020, tapi hingga kini belum juga terselesaikan. Kami berharap negara hadir untuk memediasi, karena jika tidak, masalah ini akan terus berkepanjangan,” ujar Heru dalam pernyataannya.

Heru menegaskan bahwa fokus utama konflik ini bukan tentang siapa yang menduduki tahta, melainkan soal hak waris yang sah.

“Kami di sini memperjuangkan hak waris kami. Ini bukan tentang siapa yang bertahta, tapi siapa yang benar-benar punya hak atas warisan ini,” jelasnya.

Polemik ini, tambah Heru, sebenarnya sudah ada bahkan sejak masa hidup almarhum Sultan Arif.

“Sebelum beliau meninggal, konflik ini sudah ada. Kami juga telah melaporkan beberapa hal ke pihak berwenang, namun sayangnya sampai saat ini belum ada langkah tegas yang diambil.”

Insiden terbaru di lokasi keraton menyebabkan lima orang mengalami cedera ringan.

“Korban hanya mengalami memar di bagian leher dan wajah,” ungkap Heru mengenai kondisi korban yang terlibat dalam kericuhan tersebut.

Heru juga menyoroti perlunya mediasi yang lebih kuat dari pemerintah, terutama untuk memverifikasi keabsahan dokumen-dokumen yang mereka klaim sebagai bukti hak waris.

“Kami berharap ada pihak penengah dari negara yang bisa memverifikasi dokumen-dokumen kami sebagai bukti hak waris.”

Dia menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa tujuan mereka adalah mencari keadilan, bukan menciptakan kerusuhan.

“Kami datang bukan untuk berperang, tapi untuk berdiskusi. Kami ingin menghindari kesalahpahaman bahwa kami hanya berebut tahta, padahal yang kami perjuangkan adalah hak waris kami,” tegasnya.

(Andi/SGO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *