2026-07-21

SGOnline

Bersinar & Informatif

Komisi III Sesalkan Sikap RSPAD atas Meninggalnya Seorang Pasien Akibat Dahulukan Administrasi

CIREBON, (SGOnline).-

Pelayanan yang dinilai buruk rumah sakit (RS) Panti Abdi Dharma Cirebon, harus dibayar dengan hilangnya nyawa pasien anak. Karena pihak RS lebih mendahulukan administrasi.

Anggota Komisi III DPRD, Cicih Sukaesih mengingatkan kepada manajemen RS yang di Kota Cirebon, untuk lebih dulu menangangi pasien yang datang ke IGD.

“Agar tak terjadi kembali kasus serupa RS memiliki tugas dengan pelayanan masyarakat atas kesehatan pasien dan juga nyawa seseoran. Kasus ini sangat memprihatinkan, kami mengecam keras RS Panti Abdi Dharma,” Sabtu (20/4/2024).

Cicih menilai, perubahan jenis pelayanan semula dari RS ibu dan anak menjadi rumah sakit umum ini tidak ditunjang dengan kesiapan fasiltas memadai dan ketersediaan tenaga kesehatan yang cakap.

“Jangan sampai beralih ke RSU, gagap dalam menerima pasien yang banyak, karena tenaga medis yang kurang handal,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Cirebon, Tresnawaty menyampaikan belasungkawa atas kejadian yang menimpa keluarga pasien di RS Panti Abdi Dharma.

“Kami mengingatkan, agar sisi kemanusiaan didahulukan dalam melayani pasien gawat darurat di RS, sebab urusan adminstrasi BPJS dapat dilakukan beriringan atau menyusul,” katanya.

Karena menyangkut BPJS pula, Tresna meminta komitmen seluruh pemangku kebijakan terkait agar dapat memudahkan pelayanan BPJS bagi warga Kota Cirebon, apalagi ketika di luar hari kerja atau akhir pekan.

Menurutnya, pelayanan BPJS yang tidak aktif serta berkaitan dengan kegawatdaruratan boleh diaktivasi langsung di RS, tanpa harus menunggu hari kerja selanjutnya.

Jika proses administrasi memang sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan, tentu pihak BPJS pun dapat menjamin biaya yang timbul di RS.

“Artinya, bukan keluarga yang mengurus, tapi admin RS melaporkan ke Dinas, bahwa ada BPJS tidak aktif, lalu Dinkes mengajukan dan BPJS bisa langsung mengaktifkan,” tuturnya.

Sementara itu, direktur RSPAD Irma Gamawati berkelit jika tenaga kesehatan RS sudah menjalankan tugas dan kewajibannya dalam melayani pasien yang berobat saat kejadian sebagaimana mestinya.

“Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, dan kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi agar tidak terulang kembali,” tutupnya.

Diketahui, kekecewaan atas pelayanan RS Panti Abdi Dharma dirasakan salah seorang warga kota Cirebon Yuianingsih yang membawa anaknya untuk berobat.

Bukannya mendapatkan pertolongan kegawatdaruratan namun pihak manajemen melalui petugas RS Panti Abdi Dharma malah lebih mengutamakan administrasi dengan harus mengaktivasikan BPJS pasien yang ditangguhkan, ketimbang memberi pertolongan pertama pada anaknya.

“Anak telah alami sakit dari tanggal 10 April, sudah diobati sendiri, namun perlu dibawa ke RS, karena pelayanannya seperti itu, meninggal pada malam hari tanggal 11,” singkatnya. (Herwin/SGO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *