Wabup Ayu Berikan Tablet Tambah Darah Kepada Remaja Putri di SMAN 1 Pabedilan
Kabupaten, SGOnline,- Wakil Bupati Cirebon Hj. Wahyu Tjiptaningsih, beserta jajaran tampak hadir di SMAN 1 Kecamatan Pabedilan Kabupaten Cirebon, pada hari Senin (24/10/2022). Dalam rangka melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) usaha percepatan dan penurunan Stunting, sekaligus pemberian tablet tambah darah (TTD) kepada remaja putri.
Kehadiran Ayu, sapaan akrab Wakil Bupati Cirebon, di SMAN 1 Pabedilan selain sebagai Ketua Tim Penanggulangan Penurunan Stunting (TPPS), sekaligus sebagai Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD). Kehadiran Ayu juga didampingi oleh beberapa dinas-dinas terkait, seperti Bappelitbangda, Dinkes, Forkopimcam serta para kuwu se-Kecamatan Pabedilan.
Dalam kesempatan tersebut, Ayu mengatakan, persoalan stunting adalah persoalan multi sektoral yang tidak bisa ditangani oleh Pemerintah Daerah saja, akan tetapi harus melibatkan semua unsur yang terkait.
”Karena ini adalah multi sektoral, maka Pemerintah Daerah dalam usaha penurunan stunting memiliki strategi yang sama saat menangani Covid-19, yaitu dengan cara melibatkan TNI-Polri, juga melibatkan para camat dan kuwu, ibu-ibu PKK, kepala sekolah, guru dan masyarakat lainnya. Mereka satu sama lain harus melakukan edukasi kepada masyarakat, begitu pun guru kepada murid-muridnya,” ujar Ayu.
Lebih lanjut Ayu mengatakan, penanganan stunting saat ini harus berbasis data, By Name By Address, sehingga bisa fokus pada target sasaran. Edukasi harus dilakukan juga kepada remaja putri melalui sekolah-sekolah, karena menurutnya, remaja putri adalah calon pengantin yang kelak akan melahirkan anak-anak yang tentunya harus sehat sejak sebelum menikah, agar dapat melahirkan balita menuju generasi emas yang bebas stunting.
”Jangan sampai remaja putri yang masih sekolah sudah terkena anemia akibat kekurangan gizi, yang dampaknya ketika menikah nanti dan memiliki keturunan dikemudian hari, bisa melahirkan anak dalam kondisi stunting,” tutur Ayu.
Iapun berharap, agar para calon pengantin sebaiknya diberikan edukasi selama 3 bulan. Mengingat pencegahan stunting harus dengan edukasi menyeluruh, untuk memberikan pengetahuan pencegahan stunting kepada calon pengantin. Hal tersebut agar kedua calon pengantin, ketika sudah menikah nanti mereka bisa melakukan pengawasan dan pengontrolan secara mandiri saat hamil, dan setelah melahirkan, sehingga terjadinya stunting kedepannya dapat dicegah secara maksimal.
”Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang terjadi pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama, sehingga berdampak pada gagal tumbuh kembang pada fisik dan otak anak. Jika dibiarkan akan berpengaruh kepada melemahnya indeks tingkat SDM,” lanjutnya.
Untuk itu, kata Ayu, kasus stunting harus ditangani secara serius berbasis data, agar di Kabupaten Cirebon bisa segera terjadi penurunan dan ditargetkan bebas stunting sebagaimana yang diinginkan oleh Presiden Jokowi.
Di tempat yang sama, Kepala Sekolah SMAN 1 Pabedilan, Heri Purnomo menyambut baik semua program Pemerintah dalam hal penanganan kesehatan remaja, khususnya remaja putri terkait dengan pencegahan stunting. Pihaknya siap bersinergi dan berkolaborasi dengan pihak kecamatan dan Puskesmas.
Hal senada disampaikan oleh Sekmat Pabedilan, Yuyu SP mengatakan berbagai pencegahan stunting telah dilaksanakan, namun hasilnya belum efektif, karena belum terjadi hasil dengan skala yang memadai. Hal tersebut disebabkan adanya kendala dalam melakukan intervensi yang belum terintegrasi dengan baik.
Menurut Yuyu, kebijakan dan program penanganan stunting belum diterjemahkan dengan baik kedalam perencanaan yang didukung dengan penganggaran daerah secara menyeluruh. “Ahamdulilah kedepan kita akan mendapatkan anggaran kurang lebih 50 juta, dan kami menyampaikan terimakasih kepada Pemerintah Daerah,” tutur Yuyu.
Lebih lanjut Yuyu mengatakan, kendala selanjutnya yang dihadapi adalah, adanya kapasitas program di daerah yang masih lemah, serta koordinasi pusat dan daerah juga masih lemah, sehingga penanganan stunting masih belum bisa optimal.
“Ditambah adanya perilaku masyarakat yang belum sejalan dengan upaya percepatan penurunan stunting dan dukungan sosial masyarakat juga masih sangat rendah,” pungkasnya. (Rilis/SGO)
