2024-04-13

SGOnline

Bersinar & Informatif

Ratu Mawar Tanggapi Pelarangan Masuk ke Makan Sunan Gunung Jati yang Dialami Sultan Sepuh Aloeda II

2 min read

CIREBON, (SGOnline).-

Ratu Mawar memberikan statement terkait Sultan Sepuh Aloeda II bersama dengan keluarga besarnya yang ingin Grebeg Syawal Ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati tapi dilarang masuk.

Saat menggelar jumpa pers di Keraton Kanoman, Selasa (9/5/23), menurut Ratu Mawar didampingi Ratu Mariam dan sejumlah keluarga Keraton Kanoman dari Sultan Saladin, yang menjadi permasalahan dalam hal ini adalah bukan persoalan Grebeg Syawal berziarah terus tiba-tiba digembok pintunya.

Tetapi perlu diketahui, saat ini Keraton Kasepuhan sedang ada konflik terkait perebutan tahta, yang saat ini diketahui ada beberapa yang mengaku dirinya Sultan Kasepuhan, mungkin lebih dari dua.

“Dengan alasan tersebut tentunya saya sudah mendapatkan mandat dan perintah langsung dari Kanjeng Gusti Agung (KGA) Sultan Saladin. Beliau memberikan mandat kepada saya untuk meluruskan ini semua terkait dengan ketertiban sejarah, baik di Gunung Sembung atau Makam Sunan Gunung Jati,” ujar Mawar.

Tentunya, kata dia, ini adalah perintah yang harus dipatuhi, karena ke depannya kalau misalkan memang salah satu diberikan izin bagaimana pihak yang lain.

Sementara pihak – pihak yang lain mengaku dirinya menjadi sultan dan harus diketahui untuk menjadi seorang Sultan atau seorang raja, tentunya tidak setiap orang bisa itu. Ada ketentuan dan aturannya.

“Kalau di Keraton Kanoman itu garisnya lurus tidak berbelok – belok tidak ada dinamika sejarah yang terputus. Kalau di kesepuhan itu mungkin kita ketahui ada terputusnya sejarah di mana trah atau sultan yang sifatnya langsung dari keturunan Sunan Gunung Jati terputus hanya sampai dengan sultan yang kelima,” ungkap Ratu Mawar.

“Kenapa kita harus berakibat ke Sunan Gunung Jati, karena awal adanya Kasepuhan dan Kanoman itu dari beliau. Sebagai putri Keraton di Kanoman,” ujar Mawar.

Ada mekanisme untuk menjadi seorang Raja atau Sultan di Keraton Cirebon itu, yakni harus ada keturunan dari Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). “Jadi tidak semua orang bisa menjadi raja,” ucapnya.

“Oleh karena itu apabila Sultan Sepuh Aloeda II Rahardjo Djali memang keturunan raja atau sultan, tolong sebutkan keturunan dari Sultan yang ke berapa, dia putra raja atau bukan,” jelas Ratu Mawar.

Karena Keraton Kasepuhan sedang konflik jadi tentunya dalam hal ini Keraton Kanoman tidak bisa mengambil keputusan yang nanti menyebabkan konflik yang baru. Dalam proses konflik ini mungkin harus diketahui untuk pengelolaan mengambil keputusan izin ziarah kubur ada di Keraton Kanoman.

“Kenapa bahasanya di Keraton Kasepuhan tidak mempunyai kewenangan, yang mempunyai kewenangan untuk memberikan izin kubur, izin berziarah adalah Sultan atau atas nama Sultan,” pungkas Ratu Mawar. (Herwin/SGO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *