2022-09-27

SGOnline

Bersinar & Informatif

Forkompac Sesalkan Insiden Perang Batu di dalam Keraton Kasepuhan

2 min read

CIREBON, (SGOnline).-

Sekumpulan anak muda yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pemuda Cangkol (Forkompac) mengecam aksi tawuran yang berlangsung di area dalam Keraton Kasepuhan Cirebon.

Mereka yang merupakan warga Trio Cangkol (Cangkol Tengah, Utara, dan Selatan) Kelurahan Lemahwungkuk ini, mengaku prihatin atas apa yang menimpa Keraton Kasepuhan akibat adanya perebutan tahta Sultan.

Koordinator Forkompac, Muslimin mengatakan, persoalan perebutan tahta sultan merupakan permasalahan keluarga dalam keraton. Sangatlah tidak elok, jika perseteruan keluarga Keraton melibatkan pihak luar hingga menyebabkan kericuhan.

“Dalam hal ini kami tidak mempersoalkan siapa sultan di Keraton Kasepuhan, toh tidak ada pengaruhnya juga bagi kami. Tapi persoalannya itu ada pada aset keraton itu sendiri, kalau ributnya di dalam, itu kan berpotensi merusak benda-benda cagar budaya,” kata Muslimin, Rabu (25/8/2021).

Menurutnya, selaku masyarakat yang tinggal dekat dengan keraton, ia meminta agar hal tersebut diselesaikan secara internal, tidak perlu melibatkan masyarakat luar yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan keluarga keraton.

“Anehnya lagi, kok yang tawuran malah masyarakat luar. Apa tidak bisa diselesaikan melalui jalur yang lebih elegan, bukannya dulu para wali juga selalu menyelesaikan persoalan itu secara musyawarah,” ujar Muslimin.

Masih dikatakan Muslimin, dirinya mendorong agar pihak kepolisian mengusut aksi tawuran yang terjadi. Pasalnya, aksi tawuran sangat berpotensi merusak benda cagar budaya yang ada di dalam Keraton.

“Keraton mempunyai nilai historis yang sangat besar bagi Kota Cirebon, sungguh miris apabila harus dirusak hanya karena perebutan tahta, parahnya lagi yang tawuran itu entah siapa. Maka kami minta kepolisian agar mengusut itu,” tutur Muslimin.

Forkompac, lanjut Muslimin, siap akan membuat laporan kepolisian apabila diperlukan. Hanya saja, pihaknya masih menunggu keluarga kasultanan melaporkannya terlebih dahulu.

“Kalau pihak keluarga kasultanan tidak juga melaporkan, maka kami yang akan melapor. Karena yang ditakutkan adalah tawuran ini tidak berhenti di sini dan bakal kembali terjadi, karena kami mensinyalir akan ada satu pihak lagi yang akan mengklaim bahwa dirinya sebagai sultan,” tandas Muslimin. (Herwin/SGO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.