2022-09-25

SGOnline

Bersinar & Informatif

Bentrok Antarpetani di Lahan Tebu Bikin Herman Khaeron Prihatin

2 min read

CIREBON, (SGOnline).-

Anggota Komisi VI DPR RI, Herman Khaeron mengaku prihatin dengan terjadinya bentrok antar petani yang menewaskan dua orang di wilayah HGU PT. RNI (persero) Kabupaten Indramayu, pada senin 4/10/2021

“Saya turut prihatin dengan terjadinya bentrok antar petani di wilayah HGU PT. RNI (persero) Kabupaten Indramayu. Saya juga turut berbela sungkawa atas korban jiwa petani meninggal 2 orang, seraya mengajak mari kita dudukan sengketa lahan ini dengan musyawarah dan mengedepankan kebersamaan,” katanya.

Konflik di kawasan HGU PT. RNI (persero) ini telah lama berlangsung dan beberapa kali dirinya memfasilitasi pertemuan dengan Kementerian Kehutanan sebagai pemilik lahan dan PT RNI (Persero) sebagai pemilik HGU kebun tebu ini, namun sayangnya tidak pernah selesai.

Dijelaskan dia, Direksi RNI tidak pernah mendudukan persoalan ini dengan baik, bahkan selalu dengan cara-cara pendekatan aparat. Saya meyakini, jika RNI serius menangani konflik pertanahan ini, dapat selesai secara baik dan dibangun sinergi saling menguntungkan antara BUMN dan warga sekitar.

“Nasi sudah jadi bubur, saat ini telah menelan korban jiwa, dan jika tidak diselesaikan secara komprehensif akan terus terjadi konflik yang berkepanjangan, dan merugikan harmonisasi antar warga. Saya berharap polisi dapat menegakan hukum seadil-adilnya, memproses yang menyebabkan terjadinya 2 warga meninggal, dan membebaskan warga yang tidak bersalah. Aparat kepolisian tidak perlu represif, tegakkan saja hukum seadil-adilnya,” paparnya.

Terkit dengan saudara Taryadi, salah seorang pimpinan FKamis dan juga anggota DPRD dari Demokrat, ia yakin tidak terlibat bentrokan, dan pihaknya tahu sejak menjabat kepala desa dulu, aktif membela warga.

“Beberapa kali saya memfasilitasi pertemuan dengan para pejabat negara terkait dengan kawasan hutan di selatan Indramayu, Taryadi selalu menyampaikan bahwa sejarahnya kawasan itu adalah kawasan hutan, dan warga berkeinginan mengembalikanya menjadi kawasan hutan sebagai penyangga kehidupan masyarakat, karena kehadiran RNI di kawasan itu tidak kunjung memberi kesejahteraan bagi warga sekitar HGU,” ucapnya. (Herwin/SGO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.